ABOUT BULLYING



Kamu pasti sudah tidak asing dengan kata “Bullying” bukan? Dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering mendengar kata bullying, entah itu dari media social yang sering kita mainkan, ataupun secara langsung melalui percakapan sehari-hari. Tapi, tahukah kamu arti bullying yang sebenarnya? Tahukah kamu bagaimana saja bentuk tindakan yang bisa dikategorikan sebagai bullying? Jika belum tahu, aku akan memberi tahu. Tapi jika sudah tahu, tak apa,  kembali mengingatkan saja barangkali terlupa.

Berdasarkan hasil pencarian yang telah aku lakukan pada mesin pencarian Google, bullying atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan penindasan atau intimidasi, adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh satu orang atau lebih di mana tindakan ini menyakiti orang lain dengan cara kekerasan. Secara umum, bullying atau penindasan ini terbagi menjadi dua, bullying fisik dan bullying psikologis. Bullying fisik adalah tindakan penindasan ataupun kekerasan fisik  yang menimbulkan rasa sakit di bagian fisik seseorang, seperti menampar, memukul, dan lain sebagainya. Sedangkan bullying psikologis adalah tindakan penindasan seperti menghina, membentak, atau menggunakan kata-kata kasar yang menimbulkan trauma psikologis dalam diri seseorang, seperti depresi, takut berkepanjangan, stress, dan lain sebagainya. Tapi akhir-akhir ini, kita juga sering mendengar istilah cyberbullying. Tepatnya bullying yang dilakukan melalui media social dengan berasaskan teknologi yang dampaknya hampir sama seperti bullying psikologis.

Berdasarkan penjelasan singkat yang telah aku paparkan di atas, bisa dikatakan apapun bentuk dari bullying tersebut, semuanya memiliki dampak buruk terhadap kehidupan seseorang. Bagi pelaku, mungkin akan merasa puas telah melakukan tindakan bullying, merasa jagoan dan akan merasa dirinyalah yang paling hebat yang berhak ditakuti. Tapi bagaimana bagi sang korban? Dampaknya akan terus dirasakan dan dibawa seumur hidup. Terlebih lagi jika bullying psikologis, luka psikis nya tak mudah untuk disembuhkan. Para korban bullying kerap kali juga akan merasa benci terhadap diri sendiri, merasa takut menghadapi dunia luar, trauma, dan tak jarang bahkan menjadi depresi.

Aku sering membaca beberapa kasus bullying melalui berita yang bersliweran di social media. Salah satunya adalah kasus bullying yang sampai menghilangkan nyawa seseorang di Kanada. Serena Mckay, seorang wanita yang berusia 19 tahun di Kanada yang dibully oleh teman-teman sekelasnya sampai tidak bernyawa lagi. Mckay ditinju, dipukul, ditendang, dan yang lebih ironisnya lagi, insiden ini direkam dan dishare di social media Facebook.

Kemudian ada pula kasus bullying lain terjadi pada anak laki-laki berusia 10 tahun. Kevin Reese, yang mengakhiri hidupnya dengan gantung diri setelah pembully-nya menulis di tabletnya dengan isi tulisan “kill yourself, you don’t belong here”.

Hanya ada dua kasus yang aku paparkan di atas, diluar sana masih ada banyak lagi kasus bullying dengan beragam cerita. Ada beberapa kasus yang diproses oleh hukum dan diberitakan di berbagai media, dan ada banyak kasus juga yang tidak kita ketahui sampai saat ini. Dan tak jarang juga korban bullying terlalu takut  untuk angkat bicara dan semua ia simpan sendiri.

Ada orang bilang, tidak akan ada asap bila tidak ada api. Maksudnya, pelaku tidak akan melakukan tindakan bullying bila tidak ada sebab dari sang korban bullying. In my opinion, bagaimanapun permasalahannya, tetap saja tindakan bullying ini sama sekali tidak bisa dibenarkan dan dianggap suatu hal yang wajar serta dapat dimaklumi hanya karena sang korban ada salah lebih dulu. Stop victim blaming. Mental korban sudah terganggu ketika tindakan bullying menimpanya. Tapi tidak dibenarkan juga ketika kamu harus mencaci maki sang pelaku, memojokkan, bahkan tanpa sadar kamu sendiri juga telah melakukan tindakan bullying kepada sang pelaku. Be smart people. Beri dukungan pada sang korban tanpa mencaci-maki sang pelaku. Atau jika memang berat hati untuk memberi dukungan kepada sang korban, cukup diam saja. Tak perlu menambahi luka psikis pada korban bullying.

Untuk kamu yang sedang membaca ini dan merasa bahwa selama ini kamu udah ngelakuin tindakan bullying terhadap korbanmu, aku berharap agar kamu segera menyudahi tindakanmu. Dunia itu berputar. Pikirkan bagaimana nantinya jika kamu ada di posisi sebagai ‘korban’? Kamu punya keluarga, bukan? Bagaimana nantinya bila anggota keluargamu kelak yang menjadi korban bullying orang lain? Aku tidak bermaksud mendoakan, hanya ingin mengingatkan. Bukankah hidup dengan damai itu menyenangkan?

Bullying benar-benar tidak ada untungnya. Apakah kamu merasa puas jika melihat korbanmu lemah tak berdaya di hadapanmu? Apakah kamu merasa senang ketika melihat korbanmu trauma dan depresi sehingga mengganggu masa depannya? Apakah kamu merasa hebat ketika korbanmu menghembuskan nafas terakhir di tanganmu? Ada satu kutipan yang aku ingat. “ketika kamu berusaha menjatuhkan orang lain, secara tidak langsung kamu sudah menjatuhkan dirimu sendiri”. Sama seperti bullying ini, kamu sedang berusaha menghancurkan hidup orang lain, tapi secara tidak sadar kamu sudah menghancurkan hidupmu sendiri. Kendalikan emosimu dengan baik, kepuasan nafsu jiwa sesaat hanya akan menjebloskanmu ke jurang yang penuh penyesalan.

Untuk korban bullying  di luar sana, tetap kuat ya!<3  Jangan takut buat speak up. Kamu berhak bahagia dan hidup dengan tenang tanpa ada gangguan dari sekitarmu. Kamu itu berharga, percayalah.


Mari sama-sama menjadi baik dengan tidak mengusik hidup orang lain..

Komentar

Postingan Populer